2008-10-08

Suspensi BEI, siapa yang panik?  

2 comment(s)

Orang-orang yang berpendapat bahwa krisis finansial AS tidak berdampak langsung ke Indonesia (lihat di sini, sini, sini dan sini), saat ini dianjurkan menahan napas dan berpikir ulang.

Pagi ini, Pukul 11.08 WIB, Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup seluruh transaksi perdagangan. Alasannya adalah untuk mencegah terus anjloknya indeks akibat transaksi spekulatif. Penutupan mendadak ini adalah pertama kali dalam sejarah Indonesia.

Pertanyaannya, apakah otoritas finansial baru mengetahui bahwa anjloknya terus menerus indeks harga saham (lihat grafik di bawah) disebabkan oleh transaksi spekulatif? Siapapun yang mengamati bursa, entah secara serius atau sambil lalu, pasti tahu akan hal itu. Bahkan, bila kita iseng melihat Yahoo finance pun, pasti dapat mengerti bahwa anjloknya bursa karena transaksi spekulatif. Sebab, sebenarnya tak ada alasan fundamental di dalam negeri yang dapat menjelaskan hal itu.

Saya ingat, rekan Yanuar Rizky pun sudah berkali-kali mengatakan dan mengingatkan hal yang serupa (sayangnya, ia tidak turut dalam 'ekonom-ekonom' yang dipanggil oleh Presiden Yudhoyono ke istana pada Senin 6 Oktober lalu).


Fenomena yang sama dapat kita lihat di hancur-leburnya indeks bursa di seluruh dunia pada hari ini. Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh indeks Asia pun mengalami penurunan yang tajam. Indeks bursa Indonesia (JKSE) yang terparah, lalu diikuti dengan Nikkei dan Hang Seng. Pendeknya, apa yang terjadi hari ini seharusnya dapat diperkirakan dan diantisipasi lebih dini.

Pada prinsipnya, suspensi BEI adalah langkah yang terbaik karena telah terjadi market failure (lihat definisinya yang cukup baik di sini). Masalahnya, seperti dikatakan Adler Manurung yang kebetulan saya panggil "Bapa Uda", suspensi jangan dilakukan di tengah jalan. Tetapi, saya kurang sepakat dengan sarannya untuk mengikuti mekanisme pasar. Alasannya, seperti saya sebut sebelumnya, saat ini tengah terjadi market failure (kegagalan pasar) sehingga pemerintah harus bertindak.

Namun demikian, tindakan suspensi di tengah jalan ini memberi kesan bahwa sebelumnya pemerintah dan otoritas finansial telah menganggap enteng (underestimate) impacts krisis finansial dan ekonomi AS terhadap Indonesia. Sikap ini mengingatkan kita pada posisi pemerintahan Orde Baru ketika awal krisis 1997. Saat ini, setelah ‘digoyang’ baru sadar dan panik, lalu seketika menutup bursa. By the way, siapa yang sebelumnya mengatakan supaya tidak panik ya?

Link ke posting ini

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories



2 comment(s): to “ Suspensi BEI, siapa yang panik?


  • 7:02 PM  

    Gue udah baca artikel lu di Kompas boss, tapi kayaknya ada yang kurang. Dalam catatan gue waktu diperintah partai jadi jubir ekonomi, gue kok melihat ini rangkaian yang sama, ekses kapital (baca: kapital finans) mencari akumulasi di berbagai sektor dan region dengan membabi buta.

    Catatan gue, meski penyebabnya berbeda-beda, krisis demi krisis yang terjadi dalam 15 tahun ini berhubungan dengan pencarian tiada henti dari ekses kapital. Maksud gue, arus masuk dan keluar investasi finansial di sebuah sektor ekonomi atau region.

    Gue bukan terlatih untuk menjadi ekonom, jadi agak sulit menjelaskannya dengan terminologi ekonomi. Sebagai ilustrasi, sehabis Tequlia Effect tahun 1994-1995 (dimulai dari Meksiko dan ke Amlat), muncul Krisis Ekonomi Asia 1997, lalu Dotcom Crash 1999 (?), lalu Crash 2001 (barengan dengan kamikaze Osama), lalu gelembung Subprime dan Housing, Subprime Crisis, Food Crisis dan Oil Shock, dan rangkaian ini seperti ditutup oleh Black Monday kemarin.

    Point gue, ini lebih dari sekadar spekulasi. Ini gelepar-gelepar kematian kapitalisme seperti hewan yang disembelih, cuma persoalannya, apakah ini gelepar terakhir atau masih akan banyak lagi seperti ini? Toh sosialisme masih belum bisa memberikan "coup de grace"...


  • 7:14 PM  

    Salam kenal, kemarin kita ketemu di Pesta Blogger 2008. Panggil saja saya Hani. Senang sekali kenal dengan kaum muda yang peduli pada perubahan ke arah yang lebih baik.Cak Kardi (Sukardi Rinakit) sering memanggil saya Bung Hani. Kepanikan seharusnya bisa dihindari. Ekonomi neoliberal memang penuh gelembung yang sering pecah. Suatu unit ekonomi mengalami krisis karena pemasukannya kurang dan asetnya lebih rendah dari liabilitasnya.Baca selengkapnya di blog saya yang memperjuangkan ekonmi jalan tengah dan demokrasi ekonomi secara damai URL-nya adalah http://satriopiningitasli.blogspot.com

My Recent Posts in Global Voices

Previous Posts

Web Pages referring to this page
Link to this page and get a link back!