
Buku ini sekarang sedang dalam proses pencetakan. Sebentar lagi akan masuk ke distribusi dan penjualan. Pengumuman dalam blog ini bisa diartikan sebagai 'pre-soft launching'. Nanti, kalau Tuhan mengijinkan, akan diadakan launching di beberapa kota, tergantung dukungan sponsor.
Dalam rangka 'pre-soft launching' ini, saya ingin memberikan buku gratis untuk 5 komentar pertama di posting ini. Jumlah buku gratis yang akan dibagikan bagi komentator masih bisa untuk diperbanyak, tergantung antusiasme yang berkembang. Bagaimana, Anda berminat? :-)
Nah, daripada saya mempromosikan buku yang ditulis sendiri, lebih baik saya tampilkan komentar-komentar dari rekan-rekan yang nantinya akan ditampilkan juga di sampul belakang. Komentarnya seperti ini:
Dr. B. Herry-Priyono, staf pengajar pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta:
...tulisan-tulisan dalam buku ini terasa menggigit. Martin Manurung tidak bersumpah-serapah, tetapi atas nama kita ia menagih pemerintah untuk kembali memeluk alasan adanya. Alasan adanya pemerintah adalah memakai kebijakan publik sebagai cara sengaja menanam-kembali ekonomi dan politik bagi pembentukan Indonesia sebagai hidup bersama, dan bukan menyalahgunakan kebijakan publik sebagai barang dagangan melalui ketersanderaan. Meski sayup-sayup, tulisan-tulisan dalam buku ini seperti desakan nyaring kepada para pembuat kebijakan: “kejarlah dulu rasa-merasa Republik, hal-hal lain akan ditambahkan kepada kita”. (dikutip dari Kata Pengantar)
Budiman Sudjatmiko, Pegiat politik dan pemerhati isu-isu sosial:
Kumpulan tulisan Martin Manurung, seorang ekonom muda, adalah deklarasi nalar yang argumentatif untuk kebijakan ekonomi-politik baru Indonesia. Kita dihadang suatu persoalan: kritik-kritik atas serbuan neoliberalisme selama ini kerapkali masih beringsut dalam wilayah normatif. Pembebasan bangsa dan rakyat atas serbuan neoliberalisme harus diawali dengan ‘pembebasan’ kritik dari pernyataan-pernyataan normatifnya, menjadi argumentasi nalar ekonomi politik yang kuat. Sebagai seorang aktivis lulusan Fakultas Ekonomi UI dan University of East Anglia-Inggris, Martin yang saya kenal tentu tak menolak untuk menjalankan misi tersebut. Untuk itulah, kumpulan tulisan ini diterbitkan dan sampai di tangan Anda. Tulisan-tulisan serupa diharapkan bisa lahir agar ke-Indonesia-an dan nalar kita bisa berlanjut.
Maruli Gultom, Ketua Umum Ikatan Alumni UKI. Direktur PT Astra International, Tbk. Aktivis Mahasiswa 77/78:
Sepuluh tahun yang lalu, Martin Manurung (MM) ikut berjuang di jalanan menuntut perubahan di republik ini. Rejim Orde Baru berhasil ditumbangkan dan reformasi mulai digulirkan. Namun MM harus kecewa. Tidak ada tanda tanda bahwa apa yang diperjuangkannya sepuluh tahun yang lalu akan terwujud. Keprihatinannya pada keadaan bangsa hari ini mungkin telah mendorongnya untuk kembali berjuang – dengan menulis. Tulisannya mengungkap dengan cermat salah kaprah yang dilakukan pengelola negara dan dengan cerdas menunjukkan yang seharusnya dilakukan. Seandainya para pengambil kebijakan nasional mau meluangkan waktu membaca dan merenungkan tulisan-tulisan MM, ada harapan bahtera bangsa yang besar ini akan dilayarkan laju menuju pulau kesejahteraan rakyat.
Coen Husain Pontoh, editor blog IndoPROGRESS, New York, AS:
Setelah hampir sepuluh tahun reformasi bergulir, ketika masalah makin bertumpuk dan kusut, Martin berhasil menyibak dan mengurai benang kusut masalah-masalah ekonomi-politik itu dengan bahasa yang jernih dan lugas. Ia menyegarkan kembali harapan kita yang mulai redup. Dengan kombinasi pengetahuan ekonomi yang terlatih dan aktivisme politik penulisnya, buku ini hadir di saat yang sangat tepat.
Wimar Witoelar, Chairman Intermatrix Communications dan mantan juru bicara Presiden:
Dalam usia yang muda, Martin Manurung berhasil membawakan pemikiran yang tegar berdasarkan perspektif yang sangat dewasa. Ilmu ekonomi yang dikuasainya menjadi kerangka tulisan yang diperlengkapi dengan pandangan positif terhadap peran proaktif manusia untuk menerobos kejemuan lama menuju dunia yang baru. Mungkin kelahiran intelektual sebagai pejuang reformasi yang memberikan warna aktivis yang kental pada visi masyarakatnya. Jelas buku ini merupakan kumpulan tulisan yang menggugah, mengajak kita untuk memberdayakan intelektualitas berbasis sosial. Continue>>


