Orang-orang yang berpendapat bahwa krisis finansial AS tidak berdampak langsung ke Indonesia (lihat di
sini,
sini,
sini dan
sini), saat ini dianjurkan menahan napas dan berpikir ulang.
Pagi ini, Pukul 11.08 WIB,
Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup seluruh transaksi perdagangan. Alasannya adalah untuk mencegah terus anjloknya indeks akibat transaksi spekulatif. Penutupan mendadak ini adalah pertama kali dalam sejarah Indonesia.
Pertanyaannya, apakah otoritas finansial baru mengetahui bahwa anjloknya terus menerus indeks harga saham (lihat grafik di bawah) disebabkan oleh transaksi spekulatif? Siapapun yang mengamati bursa, entah secara serius atau sambil lalu, pasti tahu akan hal itu. Bahkan, bila kita iseng melihat
Yahoo finance pun, pasti dapat mengerti bahwa anjloknya bursa karena transaksi spekulatif. Sebab, sebenarnya tak ada alasan fundamental di dalam negeri yang dapat menjelaskan hal itu.
Saya ingat, rekan
Yanuar Rizky pun sudah berkali-kali mengatakan dan mengingatkan hal yang serupa (sayangnya, ia tidak turut dalam
'ekonom-ekonom' yang dipanggil oleh
Presiden Yudhoyono ke istana pada Senin 6 Oktober lalu).


Fenomena yang sama dapat kita lihat di hancur-leburnya indeks bursa di seluruh dunia pada hari ini. Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh indeks Asia pun mengalami penurunan yang tajam. Indeks bursa Indonesia (JKSE) yang terparah, lalu diikuti dengan Nikkei dan Hang Seng. Pendeknya, apa yang terjadi hari ini seharusnya dapat diperkirakan dan diantisipasi lebih dini.
Pada prinsipnya, suspensi BEI adalah langkah yang terbaik karena telah terjadi
market failure (lihat definisinya yang cukup baik di
sini). Masalahnya,
seperti dikatakan Adler Manurung yang kebetulan saya panggil
"Bapa Uda", suspensi jangan dilakukan di tengah jalan. Tetapi, saya kurang sepakat dengan sarannya untuk mengikuti mekanisme pasar. Alasannya, seperti saya sebut sebelumnya, saat ini tengah terjadi
market failure (kegagalan pasar) sehingga pemerintah harus bertindak.
Namun demikian, tindakan suspensi di tengah jalan ini memberi kesan bahwa sebelumnya pemerintah dan otoritas finansial telah menganggap enteng (
underestimate)
impacts krisis finansial dan ekonomi AS terhadap Indonesia. Sikap ini mengingatkan kita pada posisi pemerintahan Orde Baru ketika awal krisis 1997. Saat ini, setelah ‘digoyang’ baru sadar dan panik, lalu seketika menutup bursa.
By the way, siapa yang sebelumnya mengatakan supaya tidak panik ya?
Continue>>