Pretty much accurate


A blogger with a full time job (not a full time blogger) like me would have pretty much similar daily activities like the diagram above. :-)

Only two differences though:
  1. My day starts not as early as in the diagram (7 am is my best time sleep!!).
  2. I haven't got any kids (but hopefully it'll change soon).
PS: The diagram grabbed from Armanz (thanks!) as referred by Enda (thanks, to you too!). Continue>>

Selamatkan Assetnya, Bukan Bakrie

Headline the Jakarta Post hari ini menegaskan rumor yang telah beredar di kalangan pemerhati ekonomi dan keuangan perihal tekad bulat penguasa menyelamatkan Bakrie. Kali ini, harian itu menurunkan laporan bahwa demi penyelamatan Bakrie, bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani (SMI) pun dalam posisi yang terancam untuk kehilangan jabatannya.

Kendati mungkin saya memiliki beberapa perbedaan mendasar dengan SMI, namun saya menghormatinya sebagai seorang ekonom yang berkarakter dan berdedikasi. Perbedaan aliran pemikiran adalah hal yang biasa dan saya mungkin saja memiliki pilihan lain untuk posisi seorang Menteri Keuangan. Akan tetapi, saya menentang kehendak penguasa yang ingin mengganti SMI karena ia menolak proposal penyelamatan Bakrie.

Argumen yang dikemukakan, antara lain oleh KADIN dan Wapres Jusuf Kalla, untuk menyelamatkan Bakrie adalah melindungi aset nasional dari cengkraman asing. Ini adalah alasan yang mengada-ada dan menghina nasionalisme. Pertanyaanya, apakah Bakrie selama ini memedulikan kepentingan nasional? Jawabannya singkat: tidak! Lihat saja kasus lumpur Lapindo yang disebabkan Bakrie dan penyelesaiannya sampai saat ini masih terkatung-katung.

Bila pun berbicara ‘kepentingan nasional’, maka yang harus diselamatkan adalah aset-aset Bakrie. Untuk itu, Bakrie telah mendapatkan penawaran dari berbagai BUMN, misalnya PTBA, ANTAM dan PT Timah. Namun, informasi yang saya dapatkan, proses negosiasi itu kurang berjalan lancar sebagian disebabkan oleh ‘ewuh pakewuh’ dari BUMN-BUMN itu untuk mengambil alih asset Bakrie di kala saham-saham perusahaan itu hancur lebur di pasar modal. Katanya, mereka tidak mau dicap melakukan hostile takeover atas Bakrie.

Ah, hostile takeover? Bukankah Bakrie juga melakukan hal yang sama ketika ia membeli KPC? Lantas, mengapa kini hal itu menjadi persoalan?

Karena itu, harus diserukan agar suspensi terhadap perdagangan saham Bumi Resources di Bursa Efek dicabut. Otoritas finansial tak perlu bersusah-payah menahan Bakrie dari kejatuhannya. Otoritas finansial sebagai badan publik memiliki tanggung jawab yang lebih besar ketimbang itu.

Niat untuk menyelamatan Bakrie bagi saya adalah implementasi sepenuhnya dari prinsip ini: “Keuntungan milik swasta, kerugian milik publik!” Prinsip ini harus dilawan dan dihentikan.

PS: Lebih lengkap tentang nuansa politik akan hal ini, bisa dilihat tulisan Wimar Witoelar di Perspektif berjudul:Menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru sejati. Continue>>

Suspensi BEI, siapa yang panik?

Orang-orang yang berpendapat bahwa krisis finansial AS tidak berdampak langsung ke Indonesia (lihat di sini, sini, sini dan sini), saat ini dianjurkan menahan napas dan berpikir ulang.

Pagi ini, Pukul 11.08 WIB, Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup seluruh transaksi perdagangan. Alasannya adalah untuk mencegah terus anjloknya indeks akibat transaksi spekulatif. Penutupan mendadak ini adalah pertama kali dalam sejarah Indonesia.

Pertanyaannya, apakah otoritas finansial baru mengetahui bahwa anjloknya terus menerus indeks harga saham (lihat grafik di bawah) disebabkan oleh transaksi spekulatif? Siapapun yang mengamati bursa, entah secara serius atau sambil lalu, pasti tahu akan hal itu. Bahkan, bila kita iseng melihat Yahoo finance pun, pasti dapat mengerti bahwa anjloknya bursa karena transaksi spekulatif. Sebab, sebenarnya tak ada alasan fundamental di dalam negeri yang dapat menjelaskan hal itu.

Saya ingat, rekan Yanuar Rizky pun sudah berkali-kali mengatakan dan mengingatkan hal yang serupa (sayangnya, ia tidak turut dalam 'ekonom-ekonom' yang dipanggil oleh Presiden Yudhoyono ke istana pada Senin 6 Oktober lalu).


Fenomena yang sama dapat kita lihat di hancur-leburnya indeks bursa di seluruh dunia pada hari ini. Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh indeks Asia pun mengalami penurunan yang tajam. Indeks bursa Indonesia (JKSE) yang terparah, lalu diikuti dengan Nikkei dan Hang Seng. Pendeknya, apa yang terjadi hari ini seharusnya dapat diperkirakan dan diantisipasi lebih dini.

Pada prinsipnya, suspensi BEI adalah langkah yang terbaik karena telah terjadi market failure (lihat definisinya yang cukup baik di sini). Masalahnya, seperti dikatakan Adler Manurung yang kebetulan saya panggil "Bapa Uda", suspensi jangan dilakukan di tengah jalan. Tetapi, saya kurang sepakat dengan sarannya untuk mengikuti mekanisme pasar. Alasannya, seperti saya sebut sebelumnya, saat ini tengah terjadi market failure (kegagalan pasar) sehingga pemerintah harus bertindak.

Namun demikian, tindakan suspensi di tengah jalan ini memberi kesan bahwa sebelumnya pemerintah dan otoritas finansial telah menganggap enteng (underestimate) impacts krisis finansial dan ekonomi AS terhadap Indonesia. Sikap ini mengingatkan kita pada posisi pemerintahan Orde Baru ketika awal krisis 1997. Saat ini, setelah ‘digoyang’ baru sadar dan panik, lalu seketika menutup bursa. By the way, siapa yang sebelumnya mengatakan supaya tidak panik ya? Continue>>

Terpopuler di Kompas Cetak Hari Ini


Terimakasih untuk beragam tanggapan yang muncul via SMS maupun e-mail terhadap artikel saya yang terbit di Kompas hari ini (8 Oktober 2008), halaman 6.

Senang untuk bisa mengetahui bahwa banyak orang kini concern dengan Neoliberalisme, khususnya setelah mengikuti perkembangan krisis keuangan dan ekonomi di Amerika Serikat. Perhatian publik tersebut terlihat dari banyaknya pembaca yang meng-klik artikel tersebut sehingga menduduki peringkat wahid 'Berita Terpopuler' hari ini via Kompas-cetak online. Daftar terpopuler itu bisa dilihat pada gambar di atas.

Dari statistik viewers Kompas online, tercatat artikel tersebut dikunjungi oleh 2758 pengunjung (data sampai dengan Pukul 14.22 WIB), seperti terlihat pada gambar di bawah.

Continue>>

Women over 25



Derived from Enda's Blog Gambar Continue>>

My Stuff in Global Voices Online