Be Born in Us Again

MERRY CHRISTMAS 25 December 2008!


Thou Son of the Most High, Prince of Peace, be born again into our world. Wherever there is war in this world, wherever there is pain, wherever there is loneliness, wherever there is no hope, come, thou long-expected one, with healing in thy wings.

Holy Child, whom the shepherds and the kings and the dumb beasts adored, be born again. Wherever there is boredom, wherever there is fear of failure, wherever there is temptation too strong to resist, wherever there is bitterness of heart, come, thou blessed one, with healing in thy wings.

Savior, be born in each of us who raises his face to thy face, not knowing fully who he is or who thou art, knowing only that thy love is beyond his knowing and that no other has the power to make him whole. Come, Lord Jesus, to each who longs for thee even though he has forgotten thy name. Come quickly.

Amen.

—Frederick Buechner, The Hungering Dark
Continue>>

Pertumbuhan Ekonomi dan Kualitas Hidup

Akhir-akhir ini, kita sering melihat iklan dari partai yang berkuasa ditambahi foto Presiden yang berisi tentang 'prestasi' pemerintah khususnya di bidang ekonomi. Diantaranya adalah 'prestasi' pertumbuhan ekonomi yang secara stabil meningkat mencapai kisaran 6 persen (walaupun tahun depan akan turun mencapai 3-4 persen akibat krisis finansial global) dan angka kemiskinan yang disebutkan turun dari 17,75 persen pada tahun 2006 menjadi 16,58 persen pada 2007.

Akan tetapi, tulisan Ali Khomsan di Kompas hari ini, memberikan kita perspektif lain dalam melihat keterkaitan antara pertumbuhan, angka kemiskinan dan kualitas hidup. Secara khusus, tulisan itu menguraikan betapa ditengah sederetan klaim 'prestasi' tersebut, ternyata rata-rata rakyat Indonesia masih hidup dengan cakupan gizi yang memprihatinkan dan bahkan jauh tertinggal dari negara tentangga kita. Tentang hal itu saya kutip tulisan tersebut seperti di bawah ini:

Mengapa rakyat kita rela antre berjam-jam dan berebutan kupon, misalnya daging kurban? Karena mereka jarang makan daging. Rendahnya konsumsi daging tecermin dari data yang menunjukkan, pada tahun 2005 rata-rata konsumsi daging hanya 7,1 kg/kapita/tahun, lebih kecil dibanding Malaysia (48 kg), Thailand (25 kg), atau Filipina (18 kg).

Pada tahun yang sama bangsa Indonesia hanya minum susu 6,8 liter/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 25 liter, Thailand 24.9 liter, dan Filipina 11.3 liter. Dengan peningkatan konsumsi susu yang amat lambat, diprediksi kita baru bisa mengejar Malaysia setelah 120 tahun. Bahkan, jika kita ingin menyamai AS yang konsumsi susunya 100 liter, diperlukan waktu enam abad. Untuk konsumsi telur, kita juga masih tertinggal, yakni Indonesia 50 butir/kapita/tahun, Malaysia 246 butir, dan Thailand 130 butir.

Terjemahan gambaran itu, hanya satu hari dalam seminggu rata-rata rakyat Indonesia bisa makan empat sehat lima sempurna. Enam hari sisanya, mereka menjadi vegetarian karena kemiskinan. Tak mengherankan jika 25 persen anak balita Indonesia tergolong stunted (pendek). Juga anak-anak usia sekolah banyak yang tak bisa mencapai tinggi badan optimal.

Tulisan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB itu menegaskan concern ahli-ahli pembangunan atas oversimplikasi dan overused dari data-data statistik makroekonomi tentang kemajuan pembangunan. Sejak lama telah dipahami bahwa pembangunan tidak semata-mata bersifat material, melainkan menyangkut perihal "well being".

"Well being" sulit untuk diterjemahkan. Namun demikian, intinya seperti ini: Pembangunan bertujuan untuk memenuhi seluruh potensi manusia (to fulfill human potentials), sehingga bukan saja manusia bertambah kaya, tetapi ia juga memiliki kapasitas yang diperlukan untuk membuat hidupnya menjadi lebih baik: lebih pandai, lebih sehat, berpostur tubuh lebih baik, lebih aman, dlsb.

Tulisan Ali Khomsan seperti dikutip di atas menunjukkan bahwa kendati klaim pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan angka kemiskinan yang menurun, rata-rata manusia Indonesia masih hidup dengan kualitas yang memprihatinkan. Entah sampai kapan. Continue>>

Presentasi: Neoliberalisme, Globalisasi dan Gereja

"Economics and economic justice are always matters of faith as they touch the very core of God's will for creation." -AGAPE, WCC, 200

Dua tahun yang lalu, Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (WCC) menerbitkan background document dari Sidang Rayanya di Porto Alegre, Brazil. Dokumen tersebut berjudul "Alternative Globalization Addressing Peoples and Earth" (AGAPE). [download document in PDF format]

Tahun ini, AGAPE telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul "Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi". Buku itu diterbitkan oleh Pelayanan Masyarakat Kota (PMK) HKBP Jakarta dan Bidang Marturia Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Kemarin, AGAPE diseminarkan dalam Konsultasi Nasional AGAPE dan Gereja yang diselenggarakan oleh kedua institusi penerbit dokumen itu dalam Bahasa Indonesia. Saya diminta untuk menjadi narasumber dengan tema AGAPE dan Keadilan, serta bagaimana respon gereja. Saya menguraikan hakikat filosofis neoliberalisme dan kaitannya dengan krisis, serta apa yang seharusnya menjadi sikap gereja-gereja di Indonesia.

Diskusi yang berkembang cukup menarik. Kalangan gereja memiliki keprihatinan yang mendalam atas neoliberalisme dan dampaknya di Indonesia. Lalu saya mengajukan pertanyaan, "apakah kita melawan neoliberalisme semata-mata karena dampaknya, ataukah karena memang ideologi itu bertentangan dengan iman dan hakikat manusia?" Itulah antara lain yang saya kemukakan dalam presentasi seperti terlampir di bawah ini. Selamat membaca!

Continue>>

My Stuff in Global Voices Online