Etnis Tionghoa Berterimakasih Pada SBY??

Blog Widget by LinkWithin

Seputar momen Tahun Baru Imlek beredar iklan di TV dan radio dari Indonesia China Business Council (ICBC). Iklan tersebut berkata, kira-kira seperti ini: "Sekarang kami dapat berusaha dengan aman, tanpa diskriminasi, terimakasih Presiden SBY!"

Iklan tersebut saya kira tidak berdampak positif terhadap citra etnis Tionghoa di Indonesia. Tuduhan sementara pihak bahwa etnis Tionghoa selalu 'menempel' pada penguasa, seakan-akan mendapat pembenaran. Padahal, kita tahu bahwa ICBC tentu tidak mewakili seluruh etnis Tionghoa. Entah atas pesanan siapa iklan itu dibuat!

Akibat lain dari iklan itu juga seakan-akan menunjukkan bahwa etnis Tionghoa lupa pada sejarah dan lupa "kacang akan kulitnya". Apakah yang telah diperbuat secara signifikan oleh pemerintahan sekarang terhadap etnis Tionghoa? Saya kira, tidak ada hal yang baru dan perubahan yang signifikan dilakukan oleh SBY dan Wapres Kalla, khususnya menyangkut eksistensi etnis Tionghoa.

Kalau mau berterima kasih, alamat yang lebih tepat menurut saya adalah Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati Soekarnoputri. Kedua presiden itulah yang telah mengubah secara signifikan kebijakan negara yang mendiskriminasi etnis Tionghoa.

Sejarah menunjukkan bahwa Presiden Gus Dur yang pertama kali menghapus seluruh peraturan yang mendiskriminasi etnis Tionghoa dan kelompok minoritas lainnya. Pertama kali pula, Presiden RI menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek pada era Gus Dur. Kemudian, Presiden Megawati lah yang menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional dan Libur Nasional. Sehingga, kini perayaan itu dapat diselenggarakan dengan lebih meriah dan juga dinikmati oleh etnis-etnis lain di Indonesia.

Kiranya, hal ini jangan pernah dilupakan oleh etnis Tionghoa. Jangan pernah lupa juga, bahwa 'bermain politik' dengan label etnis Tionghoa akan lebih banyak membawa kerugian, ketimbang manfaat. Sejarah mengajarkan bahwa cara-cara seperti itu hanya akan membawa keuntungan bagi segelintir orang, dan mengakibatkan bencana bagi seluruh etnis Tionghoa.

Pesan ini tulus saya sampaikan, sebagai orang Batak yang kebetulan juga anggota Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) Jakarta. Horas! Ni Hao!

2 comment(s):

tikno said...

Anda benar.

The Teacher said...

toho dei bapa tua...

Post a Comment

Don't hesitate to speak up! Comments moderation is only to guard this site against spams. So, you are most welcome to write down your comments in English or Bahasa Indonesia.

My Stuff in Global Voices Online