Di tengah diskursus tentang Neoliberalisme saat ini, beberapa orang meminta saya untuk ikut serta. Akan tetapi, diskursus yang terjadi saat ini sudah sangat riuh, tanpa konten yang mendalam serta hampa kandungan filosofis yang kukuh. Hal itu terjadi pada baik para penentang, apalagi pendukung Cawapres Boediono.
Karena itu, dalam perbincangan singkat, saya mengutarakan kerisauan itu kepada Romo B. Herry Priyono, sahabat dan 'guru' saya yang selama ini bersama-sama melawan hegemoni neoliberalisme, lama sebelum istilah itu dipakai sebagai isu politik. Pada saat seperti ini, saya utarakan kepada beliau, posisi saya tidak menguntungkan untuk turut urun rembuk karena saya berada pada salah satu partai politik. Karena itu, saya memohon kesediaan Romo Herry untuk berkenan menuliskan perspektif yang benar (to get the perspectives right) tentang neoliberalisme, untuk "mengembalikan" isu itu ke jalur yang sebenarnya. Saya gembira karena Romo Herry menyanggupi permohonan tersebut dan berkenan pula mencuri waktu diantara kesibukannya yang padat untuk menuliskan "Sesat Neoliberalisme" yang diterbitkan oleh Kompas, 28 Mei 2009, halaman 6.
Untuk memperluas cakupan pembaca artikel yang penting tersebut, sebagai editor IndoPROGRESS saya mengunggahnya ke blog "jurnal progresif" tersebut. Bersamaan dengan pemuatan tulisan itu, diunggah pula tulisan Romo I. Wibowo yang berjudul "Neoliberalisme dan Warganegara".
Kedua tokoh itu adalah pemikir-pemikir utama dalam filsafat sosial ekonomi. Karenanya, dua artikel mereka layak kita baca dan jadikan referensi di tengah hiruk-pikuk perdebatan neoliberalisme yang hampir saja hilang makna saat ini. Mari, kita baca di IndoPROGRESS!
Dua Artikel Tentang Neoliberalisme
on May 29, 2009
Posted under:
Indonesian,
neoliberalism,
political economy


0 comment(s):
Post a Comment
Don't hesitate to speak up! Comments moderation is only to guard this site against spams. So, you are most welcome to write down your comments in English or Bahasa Indonesia.