Keputusan dan Waktu

Blog Widget by LinkWithin

Seorang anggota Tim Sukses SBY-Boediono, Syarif Hasan, mengatakan bahwa pengambilan keputusan bukan soal lebih cepat, tetapi lebih tepat. Kemudian, dia menyitir budaya Jawa yang menurutnya menghendaki kehati-hatian.

"Kalau mau pergi kan diingatkan hati-hati ya, jangan cepat-cepat, supaya selamat,"ujar Syarif sebagaimana dikutip Detikcom.


Menurut saya, budaya Jawa -kalaupun benar demikian- yang disitir Syarif tersebut telah tak sesuai dengan kehendak zaman yang berkembang dewasa ini.

Melalui ilmu manajemen, kita mengetahui bahwa keputusan bukanlah variabel yang independen terhadap waktu. Dalam pengambilan keputusan, faktor waktu juga menjadi prasyarat sebuah keputusan berkualitas atau tidak. Keputusan yang baik pada saat t-0 bisa jadi buruk bila diputuskan pada t-1.

Ekonom terkenal, JM. Keynes yang teorinya menyelamatkan dunia dari Depresi Besar pada paruh 1930-an, pernah berkata: "Lebih baik tak sepenuhnya tepat, daripada salah sama sekali". Intinya, tidak ada keputusan yang risk free (bebas risiko). Karena itu, kendatipun belum sepenuhnya yakin, sebuah keputusan betapapun tak sempurnanya masih lebih baik daripada tidak ada keputusan sama sekali.

Dengan demikian, orang yang peragu sehingga biasa menunda-nunda keputusan, bisa kehilangan momentum dan jadinya sia-sia. Menurut saya, inilah yang kerap terjadi selama 5 tahun belakangan ini sehingga berbagai masalah terkatung-katung tanpa kepastian: dari tragedi lumpur Lapindo sampai keselamatan transportasi. Bukankah demikian?

1 comment(s):

HitmanSystem.com said...

Yup, kabarnya lupur Lapindo akan terus bertahan di sana setidaknya selama 30 tahun ke depan.

Post a Comment

Don't hesitate to speak up! Comments moderation is only to guard this site against spams. So, you are most welcome to write down your comments in English or Bahasa Indonesia.

My Stuff in Global Voices Online