
Diantara para calon presiden dan wakil presiden yang berkontestasi saat ini, ada yang sedang membangun citra sebagai "orang baik". Dikisahkan bahwa orang tersebut adalah sosok yang sederhana (walaupun berharta yang cukup aduhai), jujur dan rendah hati (misalnya, disebutkan bersedia menenteng tas belanjaannya sendiri di supermarket walaupun ia seorang pejabat tinggi).
Saya tak mempersoalkan bahwa ia, sebagaimana kisah orang-orang yang mengenalnya, adalah "orang baik". Akan tetapi, sebaiknya kita ingat bahwa melalui Pemilihan Presiden ini kita hendak memilih Pemimpin yang Baik, bukan sekadar "orang baik".
Karakter melodramatik yang dimiliki sebagian besar bangsa kita, seringkali mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang pilu dan pencitraan seorang tokoh yang ideal. Inilah yang harus turut dikoreksi. Sebab, bangsa dan negara kita, terlebih karena kita sedang memasuki dan berada dalam situasi yang sulit, membutuhkan pemimpin yang baik. Pemimpin yang diperlukan saat ini adalah sosok yang mampu memberikan visi masa depan, menggerakkan seluruh potensi bangsa, dan mengorganisasikan segenap potensi itu dalam kerja-kerja politik yang integratif dan nyata.
Tulisan Dr. Yudi Latif hari ini di Kompas hari ini memberikan pesan yang serupa. Ia menulis:
"...bukan sekadar potensi kebajikan seseorang, melainkan potensi yang secara aktual menggerakkan roda politik. Dengan begitu, yang dikehendaki bukan sekadar kualitas moral individual, tetapi juga kemampuan politik untuk menginvestasikan potensi kebajikan perseorangan ini ke dalam mekanisme politik yang bisa memengaruhi perilaku rakyat."
Selamat menimbang dan memilih!


0 comment(s):
Post a Comment
Don't hesitate to speak up! Comments moderation is only to guard this site against spams. So, you are most welcome to write down your comments in English or Bahasa Indonesia.