Jika semarak batik hari ini adalah percikan bunga-bunga api dan budaya kita adalah apinya, maka sketsa refleksi singkat ini adalah abunya. Sebagaimana banyak orang hari ini, saya pun turut dalam arak-arakan manusia berbaju batik. Tapi, ini bukan karena imbauan, melainkan memang saya kerap berbaju batik. Alasannya pun bukan kental kultural, melainkan praktis: batik jauh lebih nyaman dipakai di iklim tropis di Indonesia ini, ketimbang setelan jas lengkap.
Seperti hari ini, kesemarakan sering menanggalkan isinya: bahwa kita baru tersentak ketika milik kita hampir lepas dari genggaman. Akibatnya, kita menjadi defensif dan impulsif, namun tetap tak menyadari bahwa persoalannya bukan pada orang lain. Persoalannya ada pada diri kita sendiri.
Berapakah diantara kita yang tanpa riuh rendah sungguh-sungguh peduli pada warisan budaya? Berapa persen anak muda yang berbahasa daerah sefasih berbahasa Inggris? Berapa persen yang masih bisa menulis dan membaca aksara suku-bangsanya masing-masing? Atas pertanyaan-pertanyaan itu, saya mengelus dada ketika mengetahui bahwa anak seorang teman tak tahu lagi nama-nama pahlawan nasionalnya semata-mata karena hal itu tidak diajarkan di sebuah sekolah internasional yang diikutinya. Bila pun demikian, mengapa orang tuanya tidak mengajarkan hal itu padanya?
Masih ada lagi yang seharusnya membuat kita malu. Ketika kita marah atas klaim tari pendet, kita seakan lupa bahwa negara kita sendiri hampir saja mengharamkan busana tari itu dengan Rancangan Undang-Undang Antipornokasi! Saya yakin bahwa ada diantara pendukung RUU tersebut yang kini turut dalam arak-arakan batik dan kegaduhan tari pendet yang lalu tanpa menyadari bahwa mereka hampir saja melegalkan pengharaman terhadap ratusan, atau bahkan ribuan, warisan budaya nasional.
Inilah dilema yang mesti dipecahkan. Tanpa menyalahkan siapapun, baiklah kita bertanya: sampai sejauh mana kita telah menjadi Indonesia?
Abu Semarak Batik
on October 02, 2009
Posted under:
culture,
Indonesia,
Indonesian


0 comment(s):
Post a Comment
Don't hesitate to speak up! Comments moderation is only to guard this site against spams. So, you are most welcome to write down your comments in English or Bahasa Indonesia.